jangan berfikir kapan akan kembali, fikirkanlah apa yang akan engkau bawa pulang

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Aku dan Pramuka

Menjadi pandega adalah pencapaian tertinggi selama saya aktifdalam kegiatan kepramukaan di Racana Diponegoro. Pandega Bangkirai adalah nama yang selanjutnya melekat pada diriku.

Temen Math'06

Mereka telah berhasil menjadi orang hebat, dan selanjutnya saya akan menyusul menjadi orang hebat yang berikutnya, "amiin".

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Pernikahan Sahabat

mereka telah menikah, ini adalah pernikahan temanku yang terakhir karena yg lain sdh pada nikan. dan hanya ini yang bisa aku hadiri, yang lain terlewat krn saya tidak bisa mudik. lantas kapankah aku akn menyusulnya???.

Kamis, Februari 16, 2012

Suku - Suku di Sumatera Selatan

Indonesia memang kaya akan suku bangsanya, khusus dari daerah sumatera selatan saja sudah menyumbang 12 suku besar yang terkenal, belum lagi dengan suku - suku yang kurang terkenal.
Ingin tahu suku apa saja yang ada di Sumatera Selatan....??? berikut ini daftarnya:


1. Suku Komering

Komering merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung. Suku Komering terbagi atas dua kelompok besar: Komering Ilir yang tinggal di sekitar Kayu Agung dan Komering Ulu yang tinggal di sekitar kota Baturaja.

Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras.

Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak.

2. Suku Palembang

Kelompok suku Palembang memenuhi 40 - 50% daerah kota palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok : Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia. suku Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari.

Suku Palembang masih tinggal/menetap di dalam rumah yang didirikan di atas air. Model arsitektur rumah orang Palembang yang paling khas adalah rumah Limas yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk melindungi dari banjir yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Di kawasan sungai Musi sering terlihat orang Palembang menawarkan dagangannya di atas perahu.

3. Suku Gumai

Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat. Sebelum adanya Kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang.

Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat.

4. Suku Semendo

Suku Semendo berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarahnya, suku Semendo berasal dari keturunan suku Banten yang pada beberapa abad silam pergi merantau dari Jawa ke pulau Sumatera, dan kemudian menetap dan beranak cucu di daerah Semendo.

Hampir 100% penduduk Semendo hidup dari hasil pertanian, yang masih diolah dengan cara tradisional. Lahan pertanian di daerah ini cukup subur, karena berada kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut. Ada dua komoditi utama dari daerah ini : kopi jenis robusta dengan jumlah produksi mencapai 300 ton per tahunnya, dan padi, dimana daerah ini termasuk salah satu lumbung padi untuk daerah Sumatera Selatan.

Adat istiadat serta kebudayaan daerah ini sangat dipengaruhi oleh nafas keIslaman yang sangat kuat. Mulai dari musik rebana, lagu-lagu daerah dan tari-tarian sangat dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Semendo. Setiap kata pada setiap bahasa ini umumnya berakhiran "e."

5. Suku Lintang

Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan.

Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan : kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, ayam, itik, bebek, dll. Mereka tidak mencari nafkah di sektor perikanan walaupun tinggal di tepi sungai.

Orang Lintang adalah penganut Islam yang cukup kuat. Hal ini terlihat dengan banyaknya mesjid-mesjid dan pesantren untuk melatih kaum mudanya.

6. Suku Kayu Agung

Suku Kayu Agung berdomisili di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan ibukotanya Kayu Agung. Wilayah ini dialiri sungai Komering. Bahasanya terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kayu Agung dan dialek Ogan.

Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah hanya dikerjakan saat musim hujan.

Suku Kayu Agung mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga mempertahankan kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya para arwah.

7. Suku Lematang

Suku Lematang tinggal di daerah Lematang yang terletak di antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Daerah ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Suku ini menempati wilayah di sepanjang sungai Lematang, di sekitar kota Muaraenim dan kota Prabumulih.

Asal usul orang Lematang dari kerajaan Majapahit, keturunan orang Banten dan Wali Sembilan.

Orang Lematang sangat terbuka dan memiliki sifat ramah tamah dalam menyambut setiap pendatang yang ingin mengetahui seluk beluk dan keadaan daerah dan budayanya. Mereka juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Hal itu terbukti dari sikap gotong royong dan tolong menolong bukan hanya kepada masyarakat Lematang sendiri tetapi juga kepada masyarakat luar.

8. Suku Ogan

Suku Ogan terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir. Mereka mendiami tempat sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Orang ogan biasa juga disebut orang Pagagan. Suku Ogan terbagi menjadi 3 (tiga) sub-suku, yakni: Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak, dan Suku Pegagan Ilir. Kelompok masyarakat ini adalah penduduk asli dan bertani, tetapi banyak juga yang menjadi pegawai negeri. Makanan pokok suku ini ialah hasil pertanian.

9. Suku Pasemah

Suku Pasemah adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Empat Lawang, kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, dan di sekitar kawasan gunung berapi yang masih aktif, gunung Dempo. Suku bangsa ini juga banyak yang merantau ke daerah-daerah di provinsi Bengkulu.

menurut sejarah, suku ini berasal dari keturunan Raja Darmawijaya (Majapahit) yang menyeberang ke Palembang (pulau Perca). Suku ini banyak yang tersebar di pegunungan Bukit Barisan, khususnya di lereng-lerengnya. Menurut mitologi nama Pasemah berasal dari kata Basemah yang berarti berbahasa Melayu. Hasil utama masyarakat suku ini ialah kopi, sayur-sayuran dan cengkeh dengan makanan pokoknya ialah beras.

10. Suku Sekayu

Suku Sekayu terletak di Propinsi Sumatera Selatan. Dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Mayoritas penduduknya petani. Hasil pertaniannya adalah padi, singkong, ubi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, cengkeh dan kopi. Industri rakyat yang terkenal berupa bata dan genteng.

Suku Sekayu merupakan "manusia sungai" dan senang mendirikan rumah-rumah yang langsung berhubungan dengan sungai Musi. Tidak seperti umumnya suku-suku di Indonesia, suku Bugis, Minangkabau atau Jawa, suku Sekayu jarang berpindah-pindah ke tempat yang jauh. Keinginan untuk lebih maju dan mencari keberuntungan mereka lakukan hanya sampai di ibukota propinsi.

Suku Sekayu yang tinggal di Palembang menduduki sektor-sektor pekerjaan yang penting, mulai dari guru besar/dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan, pekerja galangan dan penarik becak.

11. Suku Rawas

Suku ini terletak di wilayah propinsi Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar dua aliran sungai Rawas dan sungai Musi bagian utara. Suku ini menempati wilayah di Kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, di Kabupaten Musi Rawas. Bahasa Rawas masih tergolong ke dalam rumpun melayu. Di wilayah ini banyak terdapat kebun karet rakyat.

12. Suku Banyuasin


Suku ini terutama tinggal di kab. Musi Banyuasin yaitu di kec. Babat Toman, Banyu Lincir, Sungai Lilin, dan Banyuasin Dua dan Tiga. Umumnya mereka tinggal di dataran rendah yang diselingi rawa-rawa dan berada di daerah aliran sungai. Sungai terbesar adalah sungai Musi yang memiliki banyak anak sungai. Mata pencaharian pokoknya adalah bertani di sawah dan ladang. Mereka masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda kekuatan gaib. Mereka juga menjalani beberapa upacara dan pantangan.

*Sumber

Kamis, Oktober 27, 2011

Al Qur'an

Rabu, Maret 02, 2011

Keutamaan Umat Muhammad SAW

Maha Besar Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya serta menundukkan nya shingga kita dapat dengan nyaman tinggal didalamnya, sehingga kita dapat mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan kita. Sholawat serta salam selalu kami lantuntkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Nabi agung, nabi seluruh alam, nabi akhir zaman. Yang seluruh alam bergembira dengan kelahirannya.
Beruntunglah kita menjadi ummat Muhammad, umat akhir zaman namun juga umat yang pertama masuk syurga. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika nabi Muhammad mengetuk pintu syurga dan memberi salam kepada malaikat Ridwan. Lantas penjaga syurga itu menjawab serta bertanya siapa diluar?”, aku, Muhammad”, jawab sang nabi. Lantas penjaga syurga itu barkata “ahlan wa sahlan ya Muhammad. Sungguh aku diperintakan untuk tidak membuka pintu syurga sebelum dirimu (Muhammad) beserta umatmu memasukinya”. Begitu mulyanya kita sebagai umat Muhammad, umat akhir zaman namun juga umat yang pertama kali masuk syurga.
Bukan hanya itu, allah juga memberikat nikmat umur yang pendek pada kita. Umur kita memang lebih pendek dibandingkan dengan umat sebelum Muhammad. Bandingkan saja pada zaman dahulu orang berumur ribuan tahun. Pada suatu ketika nabi bertanya kepada Allah, “ya Allah, “mengapa umat ku hanya Engkau beri umur yang sangat pendek?? Ini tidak adil ya allah, bagai mana umat ku bisa mendapatkan kemulyaan seperti umat terdahulu jika hanya Engkau beri umur yang pendek”. Lantas allah menjawabnya, ”wahai Muhammad umur umat mu memang pendek namun kuberikan bonus kepada umat mu, yaitu lailatul qodar. Barang siapa yang beribadah padaku pada malam lailatul kodar maka sama dengan ia beribadah selama 1000 bulan”. Betapa enaknya kita, bayangkan saja seandainya kita mendapatkan 30 lailatul qodar, kalau dii-kurs-kan jadi berapa lama kita beribadah kepada Allah???? (silahkan dihitung sendiri……) sedangkan usia umat sekarang rata-rata berumur 60-70 tahun (yang umurnya sudah 71 tahun haarus siap-siap tuh, hheheheh…).
Dalam peristiwa isra’ mi’roj dikisahkan bahwa nabi mendapatkan perintah sholat untuk kaumnya itu awalnya sebanya 50 kali. Namun Karena perhatian beliau kepada kita, nabi protes dan meminta keringanan kepada Allah. Dari perintah 50 kemudian dipermudah menjadi 45 kali. Namun nabi merasa itu masih berat untuk umatnya, maka nabi pun terus meminta kemudahan kepada Allah, hingga akhirnya menjadi 5 kali dalam sehari semalam. Namun nabi masih merasa kurang dan terus meminta keringanan kepada Allah, namun Allah mengatakan, “tidak Muhammad, cukup! Umatmu sholat sebanyak lima kali namun pahalanya itu sama dengan umat terdahulu yang sholatnya lima puluh kail”. Masya allah….., alangkah enaknya ita.
Betapa besar perhatian Muhammad kepada kita hingga sebelum meninggal pun beliau masih memikirkan kita. Ketika malaikat maut menjemput, nabi masih meminta kemudahan kepada Allah untuk ummatnya. “ya Allah bagaimana umat ku kelak??”, “akan aku berikan dua pilihan untuk mu, kelak 50% umatmu akan masuk syurga, atau aku berikan mandate kepadamu bahwa engkau kelak dapat mebrikan safaat kepada umatmu untuk masuk syurga”, kata Allah. Lantas nabi pun befikir, seandainya umatku 100 juta, 50 juta masuk masuk syuga itu jumlah yang terlalu sedikit. Lantas nabipun mengambil mandate untuk dapat memberikan syafaat kepda umatnya.
Dikisahkan pula, kelak nabi Muhammad akan mondar mandir keneraka untuk membebaskan umatnya dari siksa neraka hingga malaikat malik terheran dan bertanya, “wahai Muhammad, sampaikapan engkau akan berhenti memindahkan orang dari neraka???”. “aku akan berhenti melakukannnya hingga tidak ada satu kaum ku pun yang tinggal didalam neraka.” Jawab nabi.
Lihatlah betapa besarnya kecintaan nabi kepada kita, jika orang tua kita hanya mimikirkan kita selama di dunia saja. Namun nabi memikirkan kita (umatnya) hingga kelak di akhirat. Beruntunglah kita menjadi umat Muhammad yang mendapat kumulyan begitu besar berkat jasa-jasanya.
Innallaha walmaalaikatahu yusholluna ‘alannabi, yaa ayyuhalladina amanushollu alaiwasallimuu taslimaa….
Allahumma sholli wasallim ashrofassholawatiwattasliim ‘alaasayyidina wa nabiyyina, muhammadinirro ufirrohiim. Allahummasholi wasalim wabarik ‘alaih.